Luxembourg menjadi destinasi terakhir dalam rangkaian perjalanan Benelux ini. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya ke Amsterdam, Belanda yang mendebarkan sebagai debut pengalaman traveling keluarga kami. Berbeda pula dengan perjalanan kami ke Brüssels, Belgia yang menggairahkan dengan itinerary yahud yang telah matang disiapkan. Awalnya justru saya agak underestimated destinasi yang satu ini. Negara kecil, tak menarik sama sekali. Maka saya research lebih jauh mengenai Luxembourg, dan saya menemukan beberapa fakta menarik dari Luxembourg, yang diantaranya adalah Luxembourg sebagai salah satu negara terkecil di Eropa. Negara ini lokasinya berbatasan dengan tiga negara eropa lainnya, yakni Prancis, Jerman dan Belgia. Tapi tak berbatasan dengan laut sama sekali. Menariknya, penduduknya yang hanya separuh dari jumlah penduduk kota Bogor ini sebagian besar (lebih dari 50% menurut survey) adalah pendatang, bukan warga asli Luxembourg. Kenapa? Karena seperti yang dilansir majalah Global Finance, Luxembourg dinobatkan sebagai negara terkaya kedua di dunia setelah Qatar. Ini membuat Luxembourg memiliki PDB per kapita tertinggi di dunia dengan tingkat pengangguran 4,4% dari seluruh angkatan kerja pada Juli 2005. Ini disebabkan oleh ekonomi stabil, pajak dan inflasi yang relatif rendah pula. Sektor jasa, khususnya perbankan, menyumbangkan proporsi yang bertumbuh dari ekonomi. Kalau kata suami sih orang bisa dengan mudah bikin bank baru, pemerintah tak mempersulit regulasinya. Maka dengan beberapa hal menjanjikan tadi, tak heran kalau Luxembourg menjadi tujuan orang-orang dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong mengadu nasib. Wong, perusahaan besar macam Skype dan Amazon aja original headquarters atau kantor pusatnya disini. Yaudah, daripada intronya makin panjang, lebih baik kita langsung to the point aja yaa hehe.
LUX for Luxembourg
Luxembourg, 29 September 2018.
Awalnya kami merencanakan Luxembourg Trip ini pada bulan Oktober, biar hemat juga satu bulan satu negara. Demi mengejar musim panas yang hampir berakhir, hawa dingin pun sudah mulai dirasa, maka kami memutuskan untuk melakukan perjalanan terakhir dalam rangkaian Benelux Trip secepatnya. Lagipula setelah dicek, berangkat lebih awal atau nanti pun harga tiketnya sama saja, sekitar 140€ atau Rp 2,3jt menurut kurs saat ini untuk pulang-pergi bertiga. Kami menggunakan kereta Deutsche Bahn dengan dua transit, di Koblenz dan Trier. Namun jenis kereta DB ICE yang kami gunakan dari Dortmund ke Koblenz merupakan kereta yang lebih besar dari kereta cepat Jerman yang biasa kami gunakan. Baru dari Koblenz ke Luxembourg sama-sama pakai yang jenis RE. Kebetulan saat pulangnya kami hanya dua kali transit, tak lagi transit di Trier.


Karena bisa duduk di stroller, seperti menggunakan carseat saja, Bilal bisa tidur selama perjalanan dari Dortmund ke Trier. Saya pun ikut tertidur dan terbangun menjelang transit di Koblenz. Ketika terbangun saat hampir sampai Koblenz, kereta melintasi pesisir sungai Rhine yang mashaaAllah cantik sekali, walaupun saat itu sedang diselumuti kabut yang sangat tebal. Tak ada fotonya yang dapat dibagikan karena memang sulit untuk mengabadikan momen tersebut, jadilah foto-fotonya blur.

Kami melewati kota Cochem di perjalanan dari Koblenz ke Trier. Kota Cochem adalah ibukota distrik terkecil kedua di Jerman yang ekonominya bertumpu pada industri wine dan pariwisata. Memang sih, terlihat dari kereta pun banyak banget bar, juga hotel-hotel atau penginapan gitu. Yaiyalah, wong kotanya secantik itu beiiib mashaaAllah. Jujur yaa, saya itu ingin sekali berlibur ke Swiss karena keindahan alamnya yang terkenal super menakjubkan. Nah, Cochem ini, kalau saya boleh bilang, tipikal pemandangannya sebalas-duabelas mirip sama yang saya lihat (walaupun baru dari layar aja sih hehe) sama pemandangan di Swiss. Saya sampai menitikkan air mata, amazed. Ini segini baru di dunia loh, bagaimana surga? MashaaAllah. Tersedu seketika karena dua hal; bersyukur dan berharap. Sangat bersyukur Allah kasih rizki berupa kesempatan untuk traveling atau tadabbur alam bersama keluarga dan menikmati keindahan ciptaan-Nya, bersyukur karena melihat Cochem yang elok merupakan kejutan-Nya yang tak terduga di perjalanan kali ini. Berharap Ayah, Ibu, adik-adik dan para sahabat juga bisa ikut melihat keagungan Allah atas keindahan alam ini. Lalu itu semua terkumpul dalam do’a, semoga Allah kumpulkan kita semua di Jannah, menikmati keindahan terbaik yang telah dijanjikan oleh-Nya, selamanya. Aamiin.



Sebenarnya dari Koblenz ada dua jalur kereta dari dan menuju Luxembourg. Ada yang transit dulu di Trier sebagaimana yang kami lalui ketika menuju Luxembourg, dan ada juga yang direct atau langsung tanpa transit seperti perjalanan pulang kami. Keduanya tak memiliki perbedaan lama perjalanan yang signifikan sih. Bedanya cuma harus transit dulu, atau direct. Tentu lebih praktis yang direct, terutama untuk perjalanan pulang setelah lelah seharian.

Setelah melewati perjalanan darat selama kurang lebih lima jam, kami pun tiba di Luxembourg. Stasiun Luxembourg sepertinya tak sebesar stasiun-stasiun sentral di Amsterdam atau Belgia, atau terkesan begitu hanya karena sedang dilakukan renovasi saja? Secara umum, Stasiun Luxembourg tertata rapi, bersih, dan sudah mulai terlihat kalau Luxembourg ini artsy.
Ada sedikit cerita nih. Jadi, begitu tiba di stasiun, Abahnya Bilal langsung melipir ke toilet di stasiun. Otomatis saya harus menunggu bersama Bilal, sambil menjaga stroller dan barang bawaan kami. Kebetulan saat itu Bilal rewel, gemas mau jalan, gak mau diam di stroller. Tapi giliran dilepas, malah lari. Karena serba salah, saya gendonglah Bilal. Eh, Bilal ngamuk sampai teriak-teriak. Mana kami posisinya di tengah stasiun, jadilah semua mata risih tertuju pada kami. Entah perasaan saya saja, atau memang orang-orang yang saya temui saat itu tidak ramah. Kesabaran saya diuji. Di kondisi seperti ini saya latih diri untuk tenang dan bersikap bodo amat, ini perjuangan seorang Ibu; anak tantrum depan umum yang mungkin untuk orang lain termasuk kejadian yang bikin malu. “Saya sudah menjadi ibu, saya harus bisa melalui ini. Saya yang waras harus bisa mengontrol diri untuk bantu Bilal mengenal emosinya sendiri. Ini salah satu ujian dari perjalanan kali ini, kita bisa lalui.”. Itu terus yang saya afirmasikan pada diri di saat genting seperti itu. Alhamdulillah, tak lama Abahnya Bilal datang dan memperbaiki suasana. Kok terbaca lebay, yah? Tapi percayalah drama-drama kecil macam gini bisa merusak mood sepanjang liburan, bahkan salah-salah bisa bikin anak trauma. Naudzubillahi min dzalik. Jadiii, selama liburan, memang pasti nih aaada aja drama-drama yang menghiasi cerita liburan kita. Nah, disitu seninya jalan-jalan jadi terasa seru dan memorable. So, kita harus pinter-pinter jaga niat biar liburan bisa dinikmati, dan lebih penting lagi bisa disyukuri, semaksimal mungkin. This is mainly noted to myself.

Kemudian Abahnya Bilal langsung beli One Day Tickets, harganya 4€ per orang. Saya sebenarnya ragu untuk beli, tapi untuk jaga-jaga yaa yowislah. Eh benar aja, pas keluar stasiun, kami lihat transportasi publik yang tersedia adalah bus yang to be honest saya kurang sreg. Kebetulan ke Luxembourg ini kami gak buat itinerary yang gimana-gimana, mau fokus bertualang maksimal. Cuma ada beberapa target biasa aja, seperti at least foto di salah satu tourist attraction places, beli tempelan kulkas, jelajah masjid untuk shalat dzuhur dan ashar, dan makan siang. Udah gitu aja. Kami memilih Adolphe Bridge sebagai tourist attraction place, semacam buat bukti kalau kami pernah keliling Luxembourg hehe. Thanks to Google Maps, kami menemukan bahwa Adolphe Bridge letaknya tak begitu jauh dari stasiun. Masih bisa dicapai dengan jalan kaki, alhamdulillah. Lalu, selanjutnya, karena fokus pada bertualang, kami memilih untuk berjalan kaki saja. Dan akhirnya, One Day Tickets yang kami beli tak kami gunakan sama sekali doong. MashaaAllah. Penasaran kan? Kok bisa? Sampai sekarang pun kami masih suka ketawa berdua kalau ingat tiket yang mubazir itu. XD



Di jalan menuju Adolphe Bridge, kami melalui bangunan-bangunan berdisain klasik khasbenua Eropa. Beberapa kali kami melewati restoran, kiosk, atau minimarket. Beberapa kali juga suami menawarkan untuk jajan, mengganjal perut. Tapi saya menolak karena alasan berhemat haha, judlnya juga kan jalan-jalan backpacking ala-ala. Harus pandai berhematlah hoho. Lagipula kami sudah menyiapkan bekal dari rumah, potongan apel, mentimun, dan biskuit untuk Bilal sama Abahnya, serta mie goreng khusus untuk Ambunya aja hehe. Kebetulan di tengah jalan, kami menemukan taman kota yang asri, disediakan beberapa tempat duduk juga. Jadilah kami melipir sebentar untuk nyemil, mengganjal perut. Bilal pun bebas berlarian, bermain kejar-kejaran sama Abahnya. Saya? Saya sibuk mendokumentasikan, and doing live on instagram. Hehe.


Setelah “isi bensin” kami melanjutkan perjalanan menuju Adolphe Bridge, mengikuti arahan google maps. Tapi ternyata kami diarahkan untuk menuju Adolphe Bridge langsung, bukan ke tempat dimana kami bisa memotret sang jembatan hits tersebut. Maka, kami berinisiatif untuk cari sendiri tempat tersebut. Mengira-mengira. Hasilnya memang kami tak langsung sampai ke tujuan, tapi kami menemukan beberapa tempat dengan view oke yang jarang orang lalui. Sambil mencoba memecahkan teka-teki, kemana kami harus pergi? Tiba di ujung jembatan, kami mengikuti arah jembatan saja. Dan, biidznillah, kami sampai juga ke tempat tujuan yang benar. Banyak sekali turis disana yang berfoto dengan beragam pose ajaibnya masing-masing. Nah, ini ada beberapa dari foto Bilal dengan pose ajaibnya juga haha.



Tempat foto Adolphe Bridge ini sepertinya memang pusat turis yaa, jadi ada toko souvenir khas Luxembourg juga. Kami tidak menemui ada toko souvenir lagi setelah itu. Alhamdulillah, kami sempat membeli tempalan kulkas dengan harga standard untuk magnet kulkas di barat.
-

Aneka macam souvenir Luxembourg. -

Bermacam-macam pilihan tempelan kulkas.

Setelah berhasil foto di mainstream spot, kami mencari masjid untuk shalat. Ketemu tuh masjidnya dari google maps, eh ndilalah Pak Suami malah ngajak bertualang dulu di tengah jalan menuju masjid. Jadilah kami spontan untuk keliling Luxembourg dengan melupakan google maps sejenak. Kami menemukan jalan-jalan kecil, yang khas Luxembourg banget. Oiya, Luxembourg itu artinya kastil-kastil kecil, maka tak heran kalau kita akan menemukan begitu banyak kastil-kastil berbagai ukuran dan disain di Luxembourg ini. Dan dari petualangan Nabilal yang dadakan nan sok ide inilah kami jadi tahu kalau salah satu keunikan kota ini adalah dengan struktur datarannya yang luar biasa bervariasi. Berbeda sekali dengan Belanda yang datarannya rata, nah kalau di Luxembourg ini mashaaAllah mayoritas naikan atau turunan, dan cukup curam. Beberapa kali kami menemukan jalan yang kira-kira sudut kemiringannya 50°. Iya, semiring itu beiiibs.







Di tengah petualangan spontan kami, kami menemukan taman bermain. Demi Bilal, kami melipir sebentar untuk bermain di playground ini. Bilal dan Abahnya pun gembira main ayunan masing-masing. Sebelum meninggalkan taman ini untuk menuju masjid, kami menyempatkan untuk mengganti diaper Bilal. Tentunya tetap mencari spot yang sepi dan meminimalisir jangkauan pandangan orang lain. Namanya traveling sama toddler yaa begini, harus bisa ngakalin gimana supaya kebutuhan anak terpenuhi, sehingga anak tetap nyaman selama liburan.

Association Islamique Le Juste Milieu (LJM) Asbl nama masjid yang kami kunjungi untuk #NabilalJelajahMasjid di Luxembourg. Masjid ini terletak di area perumahan gitu, dari luar memang tidak terlihat sebagai masjid. Biar begitu, di dalam masjidnya tetap bersih dan nyaman. Saya pun bisa dengan tenang menyusui Bilal di ruangan khusus perempuan. Pak Suami tak sempat mendokumentasikan seperti apa shaf untuk lelaki karena katanya saat itu masjid tengah ramai dengan jama’ah yang bersiap menunaikan shalat ashar.

Keluar dari masjid, kami mencari restoran yang menyediakan makanan khas Luxembourg yang halal. Namun sayang, kami tak menemukan makanan atau jajanan apa yang khas dari Luxembourg, dan lagi hampir semua restoran halal di Luxembourg sedang tutup saat it. Sebagian dari mereka baru buka menjelang malam nanti, sedangkan kami tak bisa berlama-lama. Jadilah kami memilih untuk makan siang di salah satu kedai kebab, lokasinya strategis, sangat dekat dengan stasiun. Bisa dicapai dengan berjalan kaki juga dari Masjid.
Kedainya cukup luas, bersih, dan pelayanannya juga oke. Saya memesan burger mengingat burger halal termasuk langka disini karena daging yang digunakan adalah daging cincang asli, seperti daging burger Mekdi atau Raja Burger gitu. Bukan isian salami ala burger yang dijual di sekolahan hehe. Suami pesan Adana Kebab dengan burgul, plus pommes atau kentang goreng juga. Bilal? Bilal icip punya Ambu dan Abahnya aja yaa hoho kebetulan porsinya juga besar. Dua menu ini ditambah sekaleng Lipton ini harganya sekitar 20€. Sebenarnya rada kecewa sih gak makan makanan khas Luxembourg, kalau kebab begini juga di Dortmund mah banyak. Tapi yaa tetap harus bersyukur kan, masih ada yang bisa dimakan hehe. Alhamdulillah.



Setelah makan, kami masih ada sisa waktu lumayan lama, sekitar sejam sebelum kereta kami siap berangkat. Pak Suami beberapa kali mengajak untuk ngeteh sore sambil ngemil kek sebagai dessert. Tapi melihat harganya kok yaa saya eman-eman haha dasar perempuan. Akhirnya begitu liat-liat di salah satu bakery ternama yang ada di stasiun, nemu macaroons, dan pengen. Eh sayang, gak keburu karena tokonya sudah mau tutup. Baru deh dari situ browsing tentang macaroons di Luxembourg. Ternyata ada macaroons yang lebih terkenal, yang berasal Paris, Prancis sebagai jirannya Luxembourg. Namanya tokonya Ladurée. Well, jadi referensi nih kalau suatu saat liburan ke Paris inshaaAllah.
So, over all liburan kali ini adalah yang paling fleksibel dibanding dengan liburan kami sebelumnya ke Amsterdam dan Brüssels. Walaupun paling lama perjalanannya kalau dari Dortmund, tapi liburan kali ini terasa lebih santai. Mungkin karena itinerary yang dibuat gak se-“ngoyo” trips sebelumnya kali yaa hehe. Apalagi suami yang super excited pas jalan kaki bertiga jelajah kota Luxembourg, hanya mengikuti langkah kaki membawa kami. Ditambah keindahan ukiran alamnya yang suami suka sekali. Perjalanan yang hanya mengandalkan jalan kaki, tanpa transportasi sama sekali ini seperti jawaban atas wish suami di Brüssels beberapa pekan sebelumnya. Beliau pernah bilang di kereta di Brüssel kalau beliau sebenarnya kurang suka trip yang kelamaan di alat transportasi. Bagi beliau, eksplore suatu daerah dengan berjalan kaki itu yang seru. Semakin adventurous, semakin menarik. Jadilah perjalanan di Luxembourg ini cocok banget buat beliau. Saya pun ikut happy melihat suami sangat menikmati liburan kali ini. Bahkan Pak Suami sih pengen (pake) banget untuk jalan-jalan, yang literally jalan-jalan di Luxembourg lagi. Berbeda dengan beliau, saya sih merasa kalau Luxembourg ini sama seperti Keukenhof. Very nice, but for me, once is enough hehe. Lebih baik mengunjungi tempat-tempat baru yang sama-sama menarik untuk dikunjungi. Seperti kota Cochem misalnya hihi.
Alhamdulillah, akhirnya bucket list untuk mengunjungi Benelux di tahun ini atas izin Allah sudah terpenuhi. Salah satu bentuk nikmat Allah yang wajib kami syukuri. It’s obvious that we can’t hardly wait for the other trips coming forward. InshaaAllaah. See you!



No Comments